Lompat ke isi utama

Berita

Kalah Jadi Cacing, Menang Jadi Naga: Mentalitas Suporter Bola dan Pelajaran untuk Demokrasi

Kalah Jadi Cacing

Dalam dunia sepak bola, ada satu fenomena yang sering muncul di kalangan suporter: ketika tim kesayangannya menang, semua terasa sempurna. Pemain dipuji setinggi langit, pelatih dianggap jenius, dan lawan terasa kecil. Namun saat kalah, suasana bisa langsung berubah. Wasit dituduh berat sebelah, pertandingan dianggap tidak adil, bahkan kadang sesama pendukung saling menyalahkan. Jargon yang belakangan ramai di media sosial: “kalah jadi cacing, menang jadi naga.”

Mentalitas seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di stadion, tetapi juga sering terlihat dalam kehidupan demokrasi, terutama saat Pemilu berlangsung. Ketika hasil sesuai harapan, semua proses dianggap berjalan baik. Tetapi ketika hasil tidak sesuai keinginan, tuduhan kecurangan, ketidakpercayaan terhadap aturan, hingga serangan kepada penyelenggara sering bermunculan.

Padahal, baik sepak bola maupun Pemilu sama-sama memiliki aturan main yang harus dihormati. Dalam sepak bola ada wasit, regulasi pertandingan, dan mekanisme protes resmi. Dalam Pemilu ada pengawas, aturan hukum, serta mekanisme penanganan pelanggaran dan penyelesaian sengketa. Semua dibuat agar kompetisi berjalan adil.

Masalah muncul ketika fanatisme lebih besar daripada sportivitas. Sebagian orang hanya siap menang, tetapi tidak siap kalah. Saat menang merasa paling hebat, saat kalah merasa paling dirugikan. Sikap seperti ini berbahaya karena dapat memicu konflik dan mengikis rasa percaya terhadap sistem yang ada.

Dalam konteks penanganan pelanggaran Pemilu, kedewasaan menjadi hal penting. Dugaan pelanggaran memang harus dilaporkan dan ditindaklanjuti, tetapi tetap melalui jalur hukum dan bukti yang jelas, bukan sekadar emosi atau kekecewaan politik. Demokrasi tidak bisa dijaga dengan kemarahan, melainkan dengan sikap yang menghormati aturan bersama.

Di sinilah peran Badan Pengawas Pemilihan Umum atau Bawaslu menjadi penting. Melalui semangat pengawasan partisipatif, Bawaslu terus mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penonton demokrasi, tetapi ikut menjaga prosesnya agar tetap jujur, adil, dan bermartabat. Karena “Bersama Rakyat Awasi Pemilu, Bersama Bawaslu Tegakkan Keadilan Pemilu” bukan hanya slogan, melainkan ajakan untuk menjaga demokrasi secara bersama-sama.

Sepak bola mengajarkan bahwa rivalitas seharusnya berhenti ketika pertandingan selesai. Begitu pula dalam demokrasi, perbedaan pilihan seharusnya tidak memutus persaudaraan. Menang tidak perlu menjadi “naga” yang merendahkan orang lain, dan kalah tidak perlu menjadi “cacing” yang merasa dunia tidak adil.

Karena pada akhirnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang, tetapi oleh bagaimana masyarakat bersikap setelah hasil ditentukan. Sportivitas bukan hanya penting di tribun stadion, tetapi juga dalam kehidupan berbangsa dan berdemokrasi.

Penulis: Rizky Anindyati - Kassubag Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya