Lompat ke isi utama

Berita

Siapkan Pemilihan OSIS dan MPK, SMAS PGRI 43 Singaparna Belajar ke Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya

SMAS PGRI 43 Singaparna

Tasikmalaya - Menjelang pemilihan ketua OSIS dan MPK, SMAS PGRI 43 Singaparna telah membentuk dua perangkat dengan peran berbeda. Ada komisi yang bertugas menyelenggarakan pemilihan, ada pula pengawas yang mengawal prosesnya. Persiapan itulah yang melatarbelakangi kunjungan siswa ke Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya untuk mempelajari bagaimana lembaga pengawas bekerja.

Muhammad Hanifan, guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila yang mendampingi siswa, menjelaskan bahwa kunjungan ke Aula Gedung Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (4/11/2026), merupakan bagian dari praktikum. Ia mengajak siswa yang terlibat dalam organisasi sekolah agar mereka memiliki rujukan ketika menjalankan pemilihan di lingkungan sendiri.

“Hari ini saya mengajak OSIS dan turunannya karena SMAS PGRI 43 Singaparna kebetulan untuk di bulan-bulan sekarang ini akan ada yang namanya pemilihan Ketua OSIS dan MPK,” kata Hanifan. “Nah, dalam pemilihan tersebut dibentuk Komisi Pemilihan OSIS dan MPK, serta Pengawas Pemilihan OSIS dan MPK.”

Menurut Hanifan, banyak siswanya kritis dan ingin mengetahui lebih jauh lembaga yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu. Pemilihan di sekolah memberi pertanyaan itu konteks yang dekat. Siswa akan menghadapi sendiri pembagian peran yang mereka pelajari, baik ketika bertugas sebagai penyelenggara atau pengawas maupun ketika menentukan siapa yang akan mewakili mereka.

Hanifan juga menaruh perhatian pada kebiasaan belajar siswa setelah kembali ke sekolah. Ia ingin mendorong mereka lebih banyak membaca isu terkini dan memahami aturan yang berkaitan dengan persoalan yang mereka jumpai. Dalam konteks Pemilu, ia berharap kesadaran hukum membantu siswa mengenali dugaan pelanggaran serta mengetahui bahwa informasi tersebut dapat disampaikan kepada Bawaslu.

Harapan Hanifan terhadap siswanya juga melampaui persiapan pemilihan pengurus organisasi. Sebagai guru Pendidikan Pancasila, ia ingin mereka tumbuh menjadi warga yang, dalam ungkapannya, “lebih kritis dan lebih melek terhadap politik”. Baginya, kebiasaan mengikuti persoalan publik sejak di bangku sekolah akan berguna ketika para pelajar mengambil keputusan sendiri sebagai pemilih.