Jum'at Sehati, Syarif Ali: Syukur, Sabar, dan Istigfar adalah Siklus Kehidupan Seorang Muslim
|
Tasikmalaya, 31 Juli 2026 – "Barangsiapa yang diberi nikmat lalu ia bersyukur, diberi cobaan lalu ia bersabar, dan berbuat dosa lalu ia memohon ampun, maka ia bebas masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki." Ungkapan penuh hikmah tersebut menjadi pembuka tausiyah yang disampaikan Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya sekaligus Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat, Syarif Ali, S.Ag., dalam Program Jum'at Sehati yang digelar Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya pada Jumat (31/7/2026).
Dalam tausiyahnya, Syarif Ali menjelaskan bahwa ungkapan tersebut mengandung pedoman hidup yang sangat relevan bagi setiap muslim. Menurutnya, kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari tiga keadaan, yaitu memperoleh nikmat, menghadapi ujian, dan melakukan kekhilafan. Ketiga keadaan tersebut menuntut sikap yang berbeda, yakni bersyukur ketika mendapatkan nikmat, bersabar ketika menghadapi cobaan, dan beristigfar ketika melakukan dosa.
"Man un‘ima ‘alaihi fa syakara, wabtuliya fa shabara, wa adznaba fastaghfara, dakhalal jannata min ayyi abwābihā syā’a."
Ia kemudian menjelaskan makna dari ungkapan tersebut.
"Artinya, barangsiapa yang diberi nikmat lalu ia bersyukur, diberi cobaan lalu ia bersabar, dan berbuat dosa lalu ia memohon ampun, maka ia bebas masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki," terang Syarif Ali.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa rasa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan kesadaran bahwa seluruh nikmat, kelapangan rezeki, kesehatan, dan kesempatan yang dimiliki berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu, rasa syukur perlu diwujudkan melalui hati yang ikhlas, lisan yang memuji Allah SWT, serta perbuatan yang mencerminkan ketaatan.
Selain syukur, Syarif Ali mengingatkan pentingnya kesabaran ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan. Menurutnya, setiap manusia pasti akan menghadapi kesulitan, musibah, maupun tantangan dalam perjalanan hidupnya. Pada kondisi tersebut, kesabaran menjadi bekal agar seseorang tetap teguh, tidak mudah berputus asa, dan tetap meyakini bahwa setiap ujian mengandung hikmah.
Ia juga menekankan bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Karena itu, setiap dosa hendaknya segera diiringi dengan istigfar dan permohonan ampun kepada Allah SWT sebagai bentuk kesadaran atas kelemahan diri sekaligus ikhtiar untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Menurutnya, syukur, sabar, dan istigfar bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri, melainkan sebuah siklus kehidupan yang akan terus dialami oleh setiap manusia. Ketika memperoleh nikmat, seseorang dituntut untuk bersyukur. Ketika menghadapi cobaan, ia dituntut untuk bersabar. Dan ketika melakukan kesalahan, ia diperintahkan untuk segera memohon ampun kepada Allah SWT.
Program Jum'at Sehati kali ini diselenggarakan secara daring karena bertepatan dengan pelaksanaan Work From Home (WFH), sebagai tindak lanjut instruksi Bawaslu Republik Indonesia. Kegiatan diikuti oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Dodi Juanda, S.P., Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya sekaligus Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Syarif Ali, S.Ag., Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya sekaligus Koordinator Divisi Sumber Daya Manusia, Organisasi, Pendidikan, dan Pelatihan Ahmad Aziz Firdaus, S.Sos., Kepala Sekretariat Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Dede Hendayana, S.STP., M.Si., para Kepala Subbagian, serta jajaran staf.
Melalui Program Jum'at Sehati, Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya terus berupaya membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada profesionalitas, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai spiritual. Nilai syukur, sabar, dan istigfar diharapkan tidak berhenti sebagai materi tausiyah, melainkan menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari serta dalam menjalankan amanah sebagai penyelenggara pengawasan pemilu yang berintegritas.