Jumat Sehati, Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya Ajak Jajaran Kenali Diri untuk Perbaiki Hati
|
Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya kembali melaksanakan kegiatan Jumat Sehati (Sehat Jasmani dan Hati) melalui tadarus Al-Qur’an secara daring pada Jumat (2/10/2026), dalam rangkaian agenda Work From Home (WFH). Kegiatan tersebut diikuti oleh Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya bersama jajaran sekretariat.
Jumat Sehati menjadi ruang bagi jajaran Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sekaligus melakukan refleksi dan introspeksi diri. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai keagamaan diharapkan dapat menjadi bagian dalam membangun integritas, kebersamaan, serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas kelembagaan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta melaksanakan tadarus Al-Qur’an dengan membaca Surat An-Nahl dan Surat Al-Isra. Kedua surat tersebut mengandung berbagai pesan tentang keimanan, rasa syukur, tanggung jawab manusia, pentingnya ilmu dan petunjuk, serta tuntunan untuk menjalani kehidupan dengan akhlak yang baik.
Setelah pelaksanaan tadarus, kegiatan dilanjutkan dengan kultum yang disampaikan oleh Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya, Syarif Ali. Dalam kultumnya, Syarif melanjutkan pembahasan mengenai pentingnya mengenal diri sebagai bagian dari proses memperbaiki hati dan meningkatkan kualitas spiritual.
Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya, Syarif mengangkat pesan dalam Surat An-Nahl ayat 43, khususnya penggalan ayat “Fas’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn,” yang mengandung pesan agar bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan apabila tidak mengetahui sesuatu.
Menurutnya, pesan tersebut juga menjadi pengingat bahwa proses memperbaiki diri membutuhkan ilmu dan kemauan untuk terus belajar. Mengenali kekurangan dalam diri menjadi salah satu langkah penting agar seseorang mengetahui bagian yang perlu diperbaiki.
Dalam kultumnya, Syarif kemudian menjelaskan konsep tujuh latifah yang dikenal dalam tradisi tasawuf. Latifah secara sederhana menggambarkan dimensi batiniah manusia yang perlu terus dilatih dan dibersihkan melalui zikir, introspeksi, pengendalian diri, serta pembiasaan dalam melakukan kebaikan.
Tujuh latifah tersebut meliputi Latifatul Qalbi, Latifatur Ruh, Latifatus Sirri, Latifatul Khafi, Latifatul Akhfa, Latifatun Nafsin Nathiqah, dan Latifatu Kullu Jasad. Masing-masing menjadi gambaran mengenai berbagai kecenderungan dalam diri manusia yang perlu dikenali dan dikendalikan.
“Inti dari pembahasan ini bukan sekadar mengetahui atau menghafal tujuh latifah, tetapi bagaimana kita melakukan muhasabah dan mengenali diri sendiri, sehingga mengetahui apa yang masih harus kita perbaiki,” ujar Syarif.
Ia menjelaskan bahwa proses mengenal diri dapat dimulai dengan melihat kembali berbagai sifat yang masih terdapat dalam hati, seperti mudah marah, menyimpan dendam, iri, dengki, riya, ingin dipuji, kurang bersyukur, maupun sulit bersabar. Sifat-sifat tersebut perlu dilatih dan dikendalikan agar secara bertahap dapat digantikan dengan keikhlasan, kesabaran, rasa syukur, kerendahan hati, kasih sayang, serta ketenangan jiwa.
Syarif juga menekankan bahwa zikir tidak semata-mata dimaknai sebagai ucapan lisan, tetapi menjadi bagian dari upaya melatih hati, pikiran, dan diri secara keseluruhan agar senantiasa mengingat Allah SWT serta terdorong untuk memperbaiki perilaku.
Melalui pembahasan tersebut, seluruh jajaran diajak untuk menjadikan muhasabah sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Mengenal diri bukan hanya mengetahui kelebihan yang dimiliki, tetapi juga berani menyadari kekurangan dan berupaya memperbaikinya melalui ilmu dan amal.
Melalui kegiatan Jumat Sehati, Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya berharap nilai-nilai spiritual dapat terus tumbuh dalam diri setiap jajaran. Semangat untuk mengenal diri, memperbaiki hati, mengendalikan hawa nafsu, serta membiasakan sifat-sifat baik diharapkan turut memperkuat integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah kelembagaan.