Lompat ke isi utama

Berita

Dari Nafsu Ammarah hingga Kamilah, Syarif Ali Bahas Perjalanan Jiwa dan Pengendalian Nafsu

Syarif Ali

Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya kembali melaksanakan kegiatan Jumat Sehati (Sehat Jasmani dan Hati) pada Jumat (11/9/2026) sebagai bagian dari rangkaian agenda Work From Home (WFH). Kegiatan tersebut diikuti oleh Ketua dan Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya, di antaranya Ketua Dodi Juanda, Anggota Syarif Ali, Ahmad Aziz Firdaus, Nasita Mutiara serta jajaran sekretariat.

Jumat Sehati menjadi ruang bagi jajaran Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus melakukan refleksi diri. Dalam kesempatan tersebut, Anggota Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya, Syarif Ali, menyampaikan materi mengenai nafsu dan bagaimana manusia perlu mengenali serta mengendalikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Syarif Ali mengawali penyampaiannya dengan menjelaskan bahwa nafsu tidak selalu identik dengan sesuatu yang buruk. Menurutnya, nafsu merupakan dorongan atau kecenderungan dalam diri manusia yang dapat mengarah kepada kebaikan maupun keburukan, bergantung pada bagaimana seseorang mengendalikan dan melatih dirinya.

“Dulu saya berpikir bahwa nafsu selalu berkaitan dengan sesuatu yang buruk. Padahal, nafsu merupakan dorongan dalam diri yang perlu kita kenali dan kendalikan. Begitu juga dengan emosi, tidak hanya berarti marah, tetapi juga mencakup rasa bahagia, sedih, tertawa, dan berbagai perasaan lainnya,” ujar Syarif Ali.

Ia kemudian menjelaskan tujuh tingkatan nafsu sebagaimana dibahas dalam Kitab Qatrul Ghaits karya Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi atau Nawawi Al-Bantani. Ketujuh tingkatan tersebut meliputi nafsu ammarah, lawwamah, mulhamah, muthmainnah, radhiyah, mardhiyyah, dan kamilah.

Nafsu ammarah merupakan tingkatan yang cenderung mendorong manusia kepada keburukan, seperti sifat tamak, kikir, dengki, dan memperturutkan keinginan tanpa kendali. Selanjutnya, nafsu lawwamah ditandai dengan munculnya kesadaran dan penyesalan setelah melakukan kesalahan, meskipun seseorang masih dapat mengulangi kesalahan tersebut.

Pada tingkatan berikutnya, nafsu mulhamah menggambarkan mulai tumbuhnya dorongan untuk berbuat baik, bersabar, qana’ah, dan bertawakal. Sementara nafsu muthmainnah merupakan kondisi jiwa yang mulai mencapai ketenangan serta berusaha menerima ketetapan Allah SWT dengan penuh keikhlasan.

Adapun nafsu radhiyah berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk rida terhadap ketentuan Allah SWT. Selanjutnya, nafsu mardhiyyah menggambarkan kondisi ketika seseorang memperoleh keridaan Allah, yang tercermin melalui akhlak dan perilaku yang semakin baik. Sementara nafsu kamilah merupakan tingkatan tertinggi dalam kerangka tersebut, yang menggambarkan kesempurnaan dalam pengendalian diri, akhlak, dan kedekatan kepada Allah SWT.

Menurut Syarif Ali, pembahasan tersebut menjadi pengingat bahwa manusia merupakan makhluk yang terus berada dalam proses belajar dan memperbaiki diri.

“Jangan pernah merasa ketika kita masih melakukan kesalahan berarti kita tidak memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Justru kesadaran terhadap kesalahan merupakan bagian dari proses perjalanan kita. Yang terpenting adalah terus berusaha, terus belajar, memperbaiki diri, dan melatih jiwa,” katanya.

Melalui Jumat Sehati, Bawaslu Kabupaten Tasikmalaya berharap nilai-nilai refleksi dan pengendalian diri tersebut dapat menjadi pengingat bagi seluruh jajaran dalam menjalankan kehidupan maupun amanah kelembagaan secara lebih baik.